ESAI Peranan Ibu Dalam Era Globalisasi

Peranan Ibu Dalam Era Globalisasi

 

           Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan terkecil sebagai inti dari suatu sistem sosial yang ada di masyarakat. Sebagai satuan terkecil, keluarga merupakan miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia. Suasana keluarga yang kondusif akan menghasilkan warga masyarakat yang baik karena di dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai dasar kehidupan bermasyarakat.

Perkembangan peradaban dan kebudayaan, terutama sejak iptek berkembang secara pesat, telah banyak memberikan pengaruh pada tatanan kehidupan umat manusia, baik yang bersifat positif maupun negatif. Kehidupan keluarga pun, banyak mengalami perubahan dan berada jauh dari nilai-nilai keluarga yang sesungguhnya. Dalam kondisi masa kini, yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi, banyak pihak yang menilai bahwa kondisi kehidupan masyarakat dewasa ini khususnya generasi mudanya dalam kondisi mengkhawatirkan, dan semua ini berakar dari kondisi kehidupan dalam keluarga. Oleh karena itu, pembinaan terhadap anak secara dini dalam keluarga merupakan suatu yang sangat mendasar. Pendidikan agama, budi pekerti, tatakrama, dan baca-tulis-hitung yang diberikan secara dini di rumah serta teladan dari kedua orangtuanya akan membentuk kepribadian dasar dan kepercayaan diri anak yang akan mewarnai perjalanan hidup selanjutnya. Dalam hal ini, seorang ibu memegang peranan yang sangat penting dan utama dalam memberikan pembinaan dan bimbingan (baik secara fisik maupun psikologis) kepada putra-putrinya dalam rangka menyiapkan generasi penerus yang lebih berkualitas selaku Warga Negara Indonesia (WNI) yang baik dan bertanggung jawab termasuk tanggung jawab sosial. Untuk membangun generasi yang sadar dan siap menjalankan fungsi sosialnya, ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam keluarga karena ibu mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan setiap anggota keluarganya. Dengan naluri keibuannya, ibu mempunyai kedekatan dengan anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain. Dalam sebuah rumah tangga, ibu mempunyai peran antara lain sebagai : Istri bagi suami, Ibu bagi anak-anaknya Dan Ibu Rumah Tangga. peran ibu sebagai pendidik memang tidak tergantikan, terutama pada masa balita, saat di mana seorang anak menemukan identitas awal. Pada saat itulah ibu lebih berperan dalam memupukan karakter seorang anak. Mereka bersentuhan langsung dengan manusia-manusia muda yang masih sangat haus dengan persentuhan mereka dengan dunia luar. Hal ini kadang berkelanjutan pada fase perkembangan anak selanjutnya, yaitu terjalin hubungan emosional yang kuat antara anak dan ibu. Hubungan antara ibu dan anak yang penuh kasih sayang membangun wawasan anak terhadap nilai-nilai kemanusian dan pemahamannya terhadap lingkungan sekitarnya.  Wawasan tersebut sangatlah diperlukan dalam perkembangan kepribadian anak selanjutnya. Dalam masa pertumbuhan tersebut dimulailah proses pemupukan budaya. Seorang anak akan mengenal kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh sang ibu, cara berpikir, bertindak dan berbicara dengan individu lainnya. Hal-hal tersebut memberikan pengalaman baginya untuk mencerna suatu ’kebiasaan’ atau tatanan dalam bersikap dan merupakan persentuhan pertamanya terhadap dunia luar. Dalam ruang yang lebih luas, seorang anak akan dituntun oleh orang tua untuk bertindak dan bersikap sesuai dengan tatanan sosial yang ada dalam suatu kelompok, masyarakat dan negara.

 

            Pertanyaannya, sejauh mana seorang ibu mendekatkan diri kepada anaknya di dalam era globalisasi ini? Jawabannya banyak sekali. Adanya sebuah keterbukaan antara Ibu dengan Anaknya, agar seorang ibu dapat  lebih memahami sikap atau karakteristik seorang anak dengan lingkungan sekitarnya, baik didalam teman bermainnya maupun didalam masyarakat sekitar. Dalam hal ini, seorang ibu sebagai pemberi nasihat atau masukan-masukan kepada anaknya, sehingga pengawasan seorang ibu terhadap anaknya dapat lebih terpantau.

 

Suatu dukungan seorang ibu sangatlah penting untuk membantu mendorong motivasi diri agar lebih berkembang dan muncul suatu ide dan inspirasi baru dari seorang anak untuk melakukan sesuatu. Hal ini di bantu dengan sarana dan prasarana, masukan-masukan, serta dukungan dari seorang ibu.  

Seorang ibu harus bisa membina keluarga menjadi sejahtera, sebagai wahana untuk penanaman nilai agama, etika dan moral serta nilai-nilai luhur bangsa, sehingga memiliki integritas kepribadian dan etos kemandirian yang tangguh untuk seorang anak agar ia dapat memahami keadaan di lingkungan masyarakat sekitarnya.

Memperhatikan kebutuhan anak (perhatian/ atensi, kasih sayang, penerimaan/ acceptance, perawatan/care, dan lain-lain) sebagai sarana pendukung yang dapat membantu seorang anak untuk mengembangkan bakatnya agar seorang anak dapat lebih nyaman dengan ibunya.

Bersikap bijaksana dengan menciptakan dan memelihara kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan yang berkualitas dalam keluarga serta pemahaman atas potensi dan keterbatasan anak untuk mengukur tingkat kemampuan seorang anak, sehingga seorang ibu dapat mengetahui langkah anaknya dalam mengambil tndakan atau keputusan.

Melaksanakan peran pendamping terhadap anak, baik dalam belajar, bermain dan bergaul, serta menegakkan disiplin dalam rumah, membina kepatuhan dan ketaatan pada aturan keluarga agar seorang ibu lebih mengetahui kegiatan-kegiatan yang di lakukan oleh anaknya.

Mencurahkan kasih sayang namun tidak memanjakan, melaksanakan kondisi yang ketat dan tegas namun bukan tidak percaya atau mengekang anggota keluarga, apabila seorang anak terlalu dimanjakan mungkin suatu saat nanti anak itu selalu ketergantungan dengan orang tuanya.

Berperan sebagai kawan terhadap anak-anaknya, sehingga dapat membantu mencari jalan keluar dari kesulitan yang dialami anak-anaknya, agar seorang anak tidak memiliki rasa malu untuk menyatakan pendapatnya terhadap ibunya.

Memotivasi anak dan mendorong untuk meraih prestasi yang setinggi tingginya. Semua itu dilaksanakan dengan ketulusan, kesabaran dan konsisten dengan komitmen semata-mata demi kesuksesan dan kebahagiaan anak. Usia anak dalam sebuah keluarga sangat bervariasi. Setiap tahap perkembangan individu mempunyai karateristik tersendiri sehingga membutuhkan pola asuh dan pola didik yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap karateristik anak, baik fisik maupun psikologis.  

 

Pertanyaannya, upaya apakah yang dilakukan seorang ibu dalam menanggulangi konflik? Jawabannya banyak sekali. Meningkatkan iman dan taqwa, yakin bahwa segalanya berasal dari Tuhan. Sehingga permasalahan tersebut tidak menjadi permasalahan yang besar, apabila kita tidak memiliki keyakinan, mungkin saja di dalam konflik itu tiadak akan pernah terselesaikan dengan pasti dan malah akan menimpulkan suatu perpecahan di dalam rumah tangga.

Memahami diri dan lingkungan, apabila kita dapat mengerti keadaan seseorang dan lingkungan di sekitar kita. Kita akan lebih mudah untuk menyelesaikan suatu masalah, karena kita dapat memahaminya.

Membuat keputusan secara tepat dilandasi dengan berbagai pertimbangan, apabila kita memiiki keputusan yang matang, tidak salahnya harus kita pertimbangkan dahulu sebelum semuanya itu di putuskan.

Pengendalian diri disertai sikap yang matang agar setiap permasalahan tidak menjadi masalah yang besar.

Keterampilan sosial pribadi dengan memiliki pribadi yang mantap disertai dengan interaksi sosial yang baik di dalam keluarga.

Menciptakan lingkungan yang kondusif (tenang, damai dan adil) agar kebersamaan tetap terjaga.

 

Pertanyaannya, pada umumnya bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak pada era globalisasi ini? Jawabannya banyak sekali. Adakan komunikasi (langsung dan tidak langsung) setiap hari dengan anak, berikan komentar (pujian dan celaan) terhadap hal-hal yang anak lakukan agar lebih mendekatkan diri dengan anak.

Responsif terhadap pertanyaan anak dalam keadaan sesibuk apapun. Apabila kita sebagai orang tua sibuk, jangan jadikan kesibukan itu sebagai penghambat komunikasi kita dengan anak karena akan membuat ia merasa tidak memiliki seseorang yang memberikan segala masukan-masukan sehingga is merasa jenuh dengan sikap kita sebagai ibu.

Sediakan waktu untuk berceritera /mendongeng untuk anak dengan ceritera yang edukatif atau kepahlawanan yang bersumber dari dalam negeri. Dalam hal ini dapat juga ceritera dari pewayangan, cerita hikayat atau kerajaan, sejarah< dan lain-lain. Dalam hal ini akan membuat seorang anak menjadi terhibur dan mendapatkan ilmu baru dari bercertteria tersebut.

Adakan pendampingan ketika anak menonton TV, khususnya untuk balita dan batasi kesempatan nonton TV anak. Apabila kita tidak mengawasi anak kita, terkadang acara yang berada di televisi itu kurang mendidik sehingga tidak layak untuk di saksikan oleh seorang anak sehingga dapat menimbulkan sikap yang kurang baik. Maka dari itu awasilah anak anda apabila akan menyaksikan acara televisi khususnya untuk balita dan batasi waktunya agar dapat menyesuaika diri dengan yang lainnya.

Sediakan mainan yang merang-sang kecerdasan, keterampilan dan kreativitas anak sehingga anak dapat lebih trampil, kreatif, tanggap dalam menyelesaikan suatu permasalahan di dalam permainan tersebut. Misalnya mambuat origami, itu membutuhkan keterampilan dalam melipat-lipat kertas, tanggap dalam mengikuti petunjuk, kreatif untuk mengembangkan kreasi-kreasi yang lain, dan masih banyak lagi permainan yang dapat merangsang kreatifitas anak.

Belikan anak buku-buku bacaan yang bermutu/bernilai edukatif dan arahkan anak agar gemar membaca seperti buku pelajaran yang bergambar atau buku yang memiliki suatu permainan di dalam belajar agar anak tidak jenuh dan bisa mengembangkan pola fikiran yang terdapat padanya.

Tanamkan kehidupan demokratis, kebersamaan dan saling menghargai dengan sesama anggota keluarga dan lingkungan terdekat sedini mungkin. Berikan tugas/pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan anak, hal ini penting dalam rangka menanamkan kemandirian agar anak dapat menesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya dan dapat menghargai orang lain. Tugas yang deberikan kepada anak pada umumnya yang dapat ia kerjaan, apabila seorang anak tidak bisa mngerjakan pekerjaan itu, bantulah agar terjalin rasa kebersamaan yang harmonis dan adanya kerjasama yang dinamis pada dasar bergotong royong sehingga anak memiliki rasa yang kuat untuk membantu orang lain dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau masalah.

Sekali-kali ajaklah anak ke panti asuhan atau panti jompo guna menumbuhkan rasa syukur bagi anak, dan rasa kasih-mengasihi untuk seksama. Agar seorang anak memiliki jiwa pahlawan yang tinggi (rasa saling tolong menolong). Dan mengajarkan akan bersyukur dengan suatu keadaanya sehingga ia dapat berbagi dengan yang lain.

Berwisata ke tempat-tempat bersejarah, pantai, pegunungan, tempat-tempat yang menarik untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan kebanggaan dan cinta tanah air bagi mereka. berwisata sangatlah penting, selain untuk menambah pengetahuan anak, juga dapat menghilangkan rasa jenuh ketika ia melakukan aktivitas sehari-harinya. Usahakan di dalam perjalanan tersebut tidak membosankan agar anak dapat terhibur.

 Pertanyaannya, bagaimana seorang ibu mendidik anaknya pada era globalisasi ini? Jawabannya banyak sekali Pembahasan mengenai peran perempuan dalam masyarakat selalu dikaitkan antara fungsi kodrati perempuan dan fungsi sosial. Sudah menjadi kodrat perempuan untuk mampu mengandung, melahirkan dan menyusui. Hal itulah yang menempatkan perempuan sebagai figur pendidikan, penuh kasih sayang, lambang keindahan dan kedamaian.

Dalam lingkungan rumah tangga peran ibu sebagai pendidik memang tidak tergantikan, terutama pada masa balita, saat di mana seorang anak menemukan identitas awal. Pada saat itulah ibu lebih berperan dalam memupukan karakter seorang anak. Mereka bersentuhan langsung dengan manusia-manusia muda yang masih sangat haus dengan persentuhan mereka dengan dunia luar. Hal ini kadang berkelanjutan pada fase perkembangan anak selanjutnya, yaitu terjalin hubungan emosional yang kuat antara anak dan ibu. Hubungan antara ibu dan anak yang penuh kasih sayang membangun wawasan anak terhadap nilai-nilai kemanusian dan pemahamannya terhadap lingkungan sekitarnya.

Wawasan tersebut sangatlah diperlukan dalam perkembangan kepribadian anak selanjutnya. Dalam masa pertumbuhan tersebut dimulailah proses pemupukan budaya. Seorang anak akan mengenal kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh sang ibu, cara berpikir, bertindak dan berbicara dengan individu lainnya. Hal-hal tersebut memberikan pengalaman baginya untuk mencerna suatu ’kebiasaan’ atau tatanan dalam bersikap dan merupakan persentuhan pertamanya terhadap dunia luar.

 

Pertanyaannya, perkembangan di dalam arus globalisasi? Kehidupan modern ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan media. Manusia modern bukan hanya ingin mengendalikan alam semesta dan menaklukkannya, namun juga memiliki peranti dan kemampuan untuk mewujudkan hal itu. Ia semakin yakin bahwa ruang dan waktu pun ia dapat kuasai. Seiring dengan perkembangan tersebut maka sangatlah dimungkinkan pertemuan berbagai budaya yang memberikan pengaruh yang dahsyat bagi perkembangan budaya global. Media masa memberikan masukan utama dalam pembentukan pola pikir global, demikian juga dengan perkembangan ekonomi dan pasar global yang memungkinkan seseorang bergerak dari suatu ruang budaya lokal ke budaya lokal lainnya. Sangatlah biasa ditemui orang Indonesia menggunakan tas buatan perancis, sambil menikmati makan siang di suatu restoran Jepang dan berbicara dengan kolega berbahasa Jerman. Atau sangatlah mungkin suku asmat di papua harus menghadiri pameran kesenian di London.

 

            Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa arus globalisasi telah mendorong pertemuan multibudaya. Manusia modern berada dalam persimpangan raya di mana berbagai budaya bertemu. Di situlah dimungkinkan adalanya proses mengenal dan memahami, dan sangat dimungkinkan terjadinya konflik antar budaya. Mau tidak mau generasi yang tumbuh di masa global berada dalam pertentangan budaya lokal dan global. Kadangkala terjadi suatu tegangan antara tuntutan untuk berada dalam ranah lokal dan melangkah menuju ranah global.

 

Di sinilah diperlukan kepekaan budaya seorang pendidik untuk dapat mengantar anak didik dalam proses pembentukan jati diri. Bagaimana menjadi seorang Indonesia yang mampu mengambil keputusan dari berbagai pilihan dalam hidup. Dalam alam modern pendidikan diarahkan untuk menghasilkan manusia-manusia mandiri. Apa artinya? Mandiri artinya memiliki kebebasan batin di dalam mengenali pilihan-pilihannya, memutuskan pilihan-pilihan yang ada dan menanggung akibatnya, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan. Tentu saja dalam menentukan pilihan terdapat beberapa faktor yang mendukung antara lain : gambaran realistis tentang dunia, gambaran diri yang sehat, memiliki nilai-nilai yang menjadi acuan, kejelasan tujuan yang ingin di capai.

 

 

Seorang ibu di dalam era globalisasi ini dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan untuk menjadikan anak-anaknya memiliki (Mega Skill) (1) Percaya diri; (2) Motivasi disertai dengan keinginan yang kuat; (3) Daya juang disertai dengan kerja keras; (4) Tanggung jawab; (5) Keuletan; (6) Kepedulian; (7) Team work; (8) Positive thinking; dan (9) Problem solving. Hal tersebut dapat dicapai dengan memberikan latihan dan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan anak sejalan dengan perkembangan usianya.

 

Kesimpulan

Banyak dampak yang ditimbulkan konflik keluarga, antara lain: (1) Para anggota keluarga sulit berkembang dan tidak bahagia; (2) Anak-anak tidak betah di rumah; (3) Kehilangan tokoh idola; (4) Kehilangan kepercayaan diri; (5) Berkembang sikap agresif dan permusuhan; (6) Rendah diri; (7) Tidak mempunyai cita-cita; (8) Mengisolasi diri; dan (9) Tak acuh. Sumber konflik dalam keluarga, antara lain:  (1) Ketidakmatangan dalam kepribadian; (2) Perbedaan sikap dan pandangan (falsafah hidup dan keyakinan); (3) Keuangan; (4) Tidak ada saling pengertian; (5) Perbedaan agama; (6) Penyimpangan/penyelewengan seksual (ketidakpuasan seksual, takut hamil, kelainan seksual, impotensi, homoseksual, sadistis, dan lain-lain) Apabila konflik yang dialami oleh individu tidak segera dapat diatasi, maka individu yang bersangkutran akan mengalami suatu kekecewaan yang amat mendalam.

Mengingat begitu penting dan mendasarnya pendidikan, bimbingan dan pengasuhan anak secara dini oleh para ibu di rumah dalam memberikan landasan, pola hidup dan perilaku anak di kemudian hari, seyogyanya pendidikan, bimbingan dan pengasuhan anak di rumah menjadi perhatian kaum ibu dan calon ibu rumah tangga. Untuk itu psikologi keluarga sebagai pengetahuan dasar bimbingan dan pengasuhan anak perlu disosialisasikan melalui berbagai media komunikasi.

 

 

Di era globalisasi ini peranan ibu terhadap anak sangatlah penting karena seorang anak lebih sering berada di pangkuan ibunya. Dapat lebih sering melaksanakan peran pendamping terhadap anak, baik dalam belajar, bermain dan bergaul, serta menegakkan disiplin dalam rumah, membina kepatuhan dan ketaatan pada aturan keluarga.

seiring dengan berkembangnya zaman, peranan seorang ibu harus bisa mengikuti gerak-gerik kemajuan globalisasi. Dalam hal ini peranan ibu itu harus tahu dalam berbagai macam bidang agar bisa membimbing keluarganya kedepan. Faktor-faktor tersebut bukanlah sesuatu yang instan yang dapat diberikan dalam waktu satu malam, melainkan suatu proses pemahaman seseorang terhadap dunia yang dicapai melalui pendidikan. Di sinilah peran ibu dituntut. Gambaran realistis dunia tidak mungkin kita pahami apabila kita tidak mempunyai akar budaya untuk memahaminya, gambaran diripun tidak dapat tercapai apabila seseorang tidak tahu siapa sesungguhnya dirinya dan nilai-nilai apa yang selama ini mengikatnya. Hal inilah yang merupakan kunci dalam membangun generasi muda untuk menemukan jati diri, dan mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan individu lain dari manapun ia berasal dalam suatu ruang bersama dunia.

 

 

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: