RESENSI Membandingkan Karya Puisi Jalaludin Rumi dan Taufik Ismail

Membandingkan Karya Puisi Jalaludin Rumi dan Taufik Ismail

 

Judul               : Akulah Angin Engkaulah Api

Penulis             : Annemarie Schimmel

Penerjemah      : Alawiyah Abdurrahman                                                      

                         Ilyas Hasan  

Cetakan           : Februari 2005

Penerbit           : PT Mizan Pustaka

Tebal               : 328 halaman

 

 Maulana Jalaludin Rumi merupakan penyair terkemuka yang banyak menghasilkan karya dengan ajaran-ajaran yang sangat erat hubungannya dengan cinta. Dalam karya-karyanya, Rumi menjadikan cinta sebagai tema sentral untuk menggambarkan kehalusan, kesyahduan sekaligus keperkasaan cinta yang jauh melampaui segala batas cinta keduniaan. Sedangkan, Taufiik Ismail merupakan  penyair yang dikenal dengan puisi-puisi sosialnya yang tajam dan seringkali tanpa begitu peduli pada capaian estetika tinggi yang merupakan obsesi kebanyakan penyair.  Hal yang melatarbelakangi penciptaan puisi-puisinya  adalah karena pada saat itu zaman sedang mengalami ancaman dan tekanan yang menimbulkan kegelisahan pada masalah besar dan kepedulian pada masalah sederhana. Oleh karena itu, hampir semua nada tulisan Taufik Ismail adalah upaya sungguh-sungguh menyelamatkan manusia dari berbagai budaya  yang nantinya akan menghancurkan manusia dan kemanusiaan.

Dalam memahami karya-karya dari kedua penyair tersebut, kita akan lebih mudah menemukan ajaran ajaran cinta dalam karya Jalaludin Rumi, terutama dalam Diwan. Begitu menonjolnya ajaran cinta pada tasawuf Rumi menjadikan para pengikut aliran mevlevis yang merupakan ajaran Rumi menempatkan cinta pada Tuhan menjadi prinsip ajarannya. Citraan perasaan yang sangat dominan tergambar dalam karya-karya Jalaludin Rumi. Misalnya dalam karya puisi cinta Jalaludin Rumi : “ Lewat cintalah semua yang pahit akan jadi manis. Lewat cintalah semua tembaga akan jadi emas. Lewat cintalah seua endapan akan jadi anggur murni. Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat. Lewat cintalah si mati akan jadi hidup. Dan lewat cintalah si Raja akan jadi budak!”. Makna syair di atas sangat menggambarkan kekuatan yang luar biasa dari cinta. Tetapi pada Taufik Ismail kedekatannya dengan alam dan kecermatannya dalam menggunakan citra visual yang diambil dari alam untuk melukiskan perasaan dan pengalaman estetikanya. Hal itu dapat dirasakan melalui beberapa sajaknya yang ditulis pada pertengahan 1960an. Misalnya dalam “Oda Pada Van Gogh” sebuah sajak yang demikian  mengesankan sebuah lukisan yang hidup : “Pohon sipres. Kafe tua. Di ujung jalan,sepi. SepiJua. Langit berombak, bula di sana. Sepi. Sepi namanya”. Kekuatan lain yang dijumpai dalam sajak Taufik Ismail ialah kecermatan penyair dalam menangkap dan menggambarkan momen penting sejarah melalui pengamatan dan keterkaitannya secara langsung. Dengan peralatan citraan-citraan visual, penyair berhasil menggerakan imajinasi pembaca untuk ikut merasakan bersama penyair dalam momen-momen sejarah yang mencekam: “ enam berikade dipasang, pagi itu. Ketika itu langit pucat, di atas Harmoni. Senjata dan baju-baju perang. Depan kawat berduri. Kota yang pengap. Gelisah menanti. Bendera setengah tiang. Di atas gayatri seorang. Seorang ibu tengadah, menyeka matanya yang basah”.  Kita tidak perlu mengalami peristiwa yang sama dengan penyair untuk dapat meresapi sajak tersebut. Citraan-citraan visual yang disajikan penyair seperti ‘senjata dan baju perang’, ‘kawat berduri’, ‘kota yang pengap’, ’bendera setengah tiang’, ‘dan ‘seorang ibu yang tengadah menyeka matanya yang basah’ telah cukup bagi kita untuk mengetahui perasaan apa yang ingin disampaikan penyair.

Antara Jalaludin Rumi dan Taufik Ismail memiliki kesamaan dalam syair-syairnya yaitu sama-sama bisa  membuat pembaca merasakan semacam afinitas atau pertalian batin dengan semangat kepenyairannya. Yaitu religiusitas yang dapat dirasakan oleh pembaca yang peka terhadap pesan-pesan moral dan keruhanian yang tersembunyi di balik ungkapan-ungkapan sajaknya yang bersahaja. Karena kereligiusannya, kita dapat memetik banyak kearifan dari sajak-sajaknya.

Dalam karyanya Rumi membagi menjadi dua bagian yaitu bagian Kitab Fihi ma Fihi Jalaludin Rumi dan Matsnawi. Dalam kitab  Fihi ma Fihi berisi renungan sufistik sehari-hari dan dalam Matnawi berisi karya utama Rumi yang berujud puisi sepanjang 25.000 bait dan disusun dalam enam buku. Karya Matsnawi mempersentasikan rasa spiritual yang tenang dalam memaparkan berbagai dimensi kehidupan dan latihan-latihan rohani. Dan lebih dari itu, mampu mengantarkan orang untuk diam dan merenungkan makna kehidupan. Ada  beberapa kesamaan antara Fihi ma Fihi dan Matsnawi, meskipun secara bentuk berbeda. Matsnawi berbentuk puisi dan Fihi ma Fihi berbentuk prosa memiliki corak dan isi yang hampir sama. Keduanya menerangkan berbagai dimensi ajaran sufi melalui kiasan dan perbandingan-perbandingan. Juga keduanya ditulis Rumi pada akhir kehidupannya. Namun dalam bentuknya yang berujud prosa, Fihi ma Fihi terasa lebih mampu untuk menjelaskan berbagai pemikiran Rumi. Kebanyakan di dalam isinya merupakan perbincangan pada majelis dimana Rumi mengajarkan pada murid-muridnya tentang satu atau beberapa pokok bahasan. Sedangkan, secara garis besar perkembangan kepenyairan Taufik Ismail dapat dibagi ke dalam tiga periode. Periode awal, meliputi karyanya yang ditulis sejak akhir 1950an hingga akhir 1970an. Sajak-sajaknya ini antara lain dimuat dalam antologi Tirani (1966) dan Benteng (1968), serta Sajak Ladang Jagung (1974). Periode tengah meliputi karyanya yang ditulis sejak awal 1970 hingga awal 1980an. Dalam periode ini kita disuguhi sajak-sajak religius dan sindirian yang tajam oleh penyair ini, misalnya gubahan kembali sufi dan kisah-kisah perumpamaan yang tergolong fabel khususnya Perkenalkan, Saya Hewan (1976). Periode ketiga, bermula sejak awal 1980an hingga sekarang, terutama tampak dalam antologi Puisi-puisi langit (1990), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2005). Perbedaan ketiga periode ini terletak pada ragam puitiknya, corak pengucapan puitiknya, atau corak pengucapan puitiknya.

Jalaludin Rumi banyak menggunakan bahasa figuratif (majas) dalam karyanya karena Matsnawi yang digunakan Rumi adalah prosa berirama. Pada karya Taufik Ismailpun sama memberdayagunakan kekuatan bahasa figuratif puisi yang efektif membangun tanggapan imajinasi pembaca. Namun, pada periode mutakhir kepenyairannya, bahasa figuratif yang digunakan maksimal sebelumnya, kini diganti dengan bahasa diskursif yang begitu dominan diselingi dengan permainan kata-kata yang indah dan memikat, suatu komponen penting juga dalam bahasa figuratif sastra.

Kedua karya tersebut merupakan suatu inspirasi yang sangat baik untuk penyair-penyair yang akan datang. Akan tetapi, karena setiap hal tak ada yang sempurna. Jadi masih kita temukan ada beberapa kekurangan dalam karya kedua penyair ini. Pada karya Jalaludin kekurangan terdapat pada bahasa yang digunakan. Bagi para pembaca awal syair-syair kesulitan dalam menafsirkan dan memahami makna dari kata-kata yang menyusun syair pada jalaludin Rumi, dan pembaca juga harus mempunyai banyak perbendaharaan bahasa yang sering digunakan dalam syair agar lebih memahami sajak yang dibaca. Dan kekurangan dalam bahasa yang digunakan ini dapat ditutupi dengan adanya catatan kaki untuk memperjelas makna dari suatu kata agar pembaca bisa lebih memahami pesan yang ingin disampaikan oleh penyair. Sedangkan pada karya Taufik ismail ada beberapa sajak-sajaknya misalnya pada sajak Malu (aku) jadi orang Indonesia yang tidak ditulis mengikuti aturan ketat sebuah puisi seperti sajak Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono. Kelemahan dari karya Taufik juga dilihat dari segi puitiknya. Namun, kedua penyair ini masih memperlihatkan bahwa penulis adalah seseorang yang memilikin sejarah kepenyairan yang panjang.

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: