INI CERITA SWI KU, APA CERITAMU ?

INI CERITA SWI KU, APA CERITAMU ?

      6 Februari 2013, UAS sedang berlangsung, saat itu ana melihat stand yang berada di sisi kanan pintu utama J1. Ana dan teman ana langsung menghampiri stand tersebut dan bertanya seputar kegiatannya. Dalam benak berfikir “ini adalah kesempatan dimana ana bisa menambah ilmu, teman dan mengisi liburan yang kosong”. Akhirnya ana, amar dan giri daftar dalam acara SWI (Study Wisata Islam) yang diadakan oleh fajrul Islam.

Ini kwitansi SWI ku, mana kwitansimu ?

KWITANSI

Ini tiket SWI ku, mana tiketmu?

TIKET

      25 Februari 2013, tiba saatnya yang ana nantikan. Tepat pukul 05.00 WIB ana berangkat dari rumah menuju J1. Setiba disana rasa lelah yang menyelimuti diripun seakan sirna, kebersamaan mengikat tali ukuwah islamiyah terasa indah dalam kisah ini. Ana berkumpul bersatu di plataran parkir J1 kampus tercinta, kemudian kami bersama untuk menuju bus yang menepi di pinggir jalan kalimalang. Akhirnya buspun berjalan, ana dan teman-teman berharap bus ini bisa tiba ditempat tujuan yaitu kampus D yang berada di depok. Setiba di depok persaudaraan ini mulai terasa menyatu, sapaan-sapaan hangat mengawali langkah ana untuk saling mengenal satu sama lain. Walaupun berbeda latek kampusnya namun kami membawa satu almamater yaitu Universitas Gunadarma. Pembagian kelompok terasa indah dengan taman-teman kalimalang dan depok. Ana menjadi bagian dari kelompok 1 yang terdiri dari 9 orang yaitu : ka. Bagus (Mentor), Elmy (Ketua), Andi, Abdurrachman, Arifin, Asep, Amar dan Giri. Rasa ukhuwah mulai terasa dekat dikelompok ana, saat ana bertukar fikiran untuk mencapai mufakat dengan yang lainnya. Ketika itu tiba saatnya kami berkumpul di pelataran parkir depan masjid untuk pelapasan menuju Villa. Akhirnya tiba saatnya ana dan teman-teman berangkat menuju villa Tempoe yang berada di Puncak Bogor. Perjalanan ini mengawali kisah kami untuk merangkai sebuah harapan, dimana harapan ini tidak akan kami lupakan. Setibanya di villa rasa letih menyelimuti raga kami, namun tak perduli rasa itu terbayar dengan suasana villa yang begitu indah. Lalu kamipun berkumpul di aula untuk pembagian villa yang akan kami gunakan untuk berteduh dari dinginnya angin malam dan teriknya sinar mentari. Kami mendapatkan villa D1, di dalam kamar terasa menyenangkan karena 2 kelompok menjadi 1 kamar. Ana dan teman-teman saling berkenalan dan berbagi pengalaman tentang sejarah yang telah dialaminya. Unik, menarik, dan lucu saat kebersamaan itu menjadi canda dan tawa diantara kami. Hingga suatu ketika kamipun lupa mempersiapkan tugas untuk Shalat Ashar. Didalam canda ini kamipun bingung harus bagaimana. Dan tiba waktunya Shalat Ashar. Alhmdulillah tugas ini kami emban dengan baik walaupun dadakan. Setelah itu ana kembali ke villa untuk bersih-bersih dan memodifikasi agar kamar yang over Load dapat muat. Keadaan ini membuat kami bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada kami. Suasanapun semakin sore, menjelang maghrib WC bagaikan uler tangga yang melingkar didepan WC. Keadaan ini membuat ana menunggu sambil berbincang dengan teman-teman yang lain. Sejuknya air pegunungan membuat ana bersemangat untuk merangkai harapan yang lebih baik. Tak terasa waktu Maghrib sudah tiba, saatnya untuk ana berangkat ke aula bersama teman-teman yang lain untuk melaksanakan shalat Maghrib, mendengarkan Kultum, dan membaca Al-Ma’tsurat. Dipengalaman pertama ini ana berusaha untuk membiasakan diri dengan semua ini, karena ini adalah kebaikan untuk bekal ana dan teman-teman nanti. Setelah itu tadarusan bersama mentor. Tak terasa tiba saatnya untuk menunaikan Shalat Isya, makan malam dan Mendengarkan Training Motivasi. Makan malam kali ini begitu spesial, dimana saat kami menikmati hidangan dalam satu nampan bersama-sama membuat makan kali ini menjadi hikmat. Setelah itu tiba saatnya Training Motivasi dengan narasumber mas hanif dan asistennya, meskipun mata bagaikan lampu 5 watt namun ana masih semangat untuk menyimak materi tersebut. sorak takbir mengawali semangat para peserta sehingga rasa ngantuk itu seakan sirna, SWI ?  “Allahuakbar”. Dalam training motivasi ini ana dan teman-teman diajarkan untuk fokus, dan bersyukur dengan apa yang kami miliki saat ini. Namun sangat disayangkan saat renungan sebagian peserta ada yang tertidur sehingga menggangu peserta lain untuk merenung. Tepat pukul 23.00 WIB acara hari ini selesai, ana dan teman-teman kembali ke villa untuk menuju pulau kapuk. Tak perduli seberapa dinginnya malam ini, yang terpenting kebersamaan ini menyelimuti kami dalam kegelapan malam.

      26 Februari 2013, tepat pukul 03.00 WIB ana dan teman-teman masih terlelap dalam mimpi, namun mimpi ini sirna seketika disaat lampu villa dinyalakan dan terdengar suara sirine toa yang berlalu di telinga kami. Pagi ini langkah kami diawali dengan semangat panitia yang membangunkan kami “ayo boy, ayo boy, ayo boy. Semangat boy, semangat boy, semangat boy. Kebakaran kebakaran kebakaran, kebakaran jenggot”. Ana dan teman-teman bersiap menuju aula untuk menunaikan shalat sunah Tahajjud, witir, tadarus dan shalat subuh. Suasana di aula begitu hikmat dengan lantunan doa yang terucap dihati sehingga membawa setiap langkah menjadi pasti. Hingga tak terasa setelah shalat subuh ana kembali berkumpul dengan teman-teman kelompok untuk mendengarkan mentoring yang disampaikan oleh mentor kami yaitu ka bagus. Dengan pengetahuannya mentoring ini kami awali dengan tadarus bersama dan membahas tentang isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Hingga saatnya tiba, sang fajar mulai menampakkan sinarnya tiba saatnya untuk kami berkumpul di pelataran luas yang tak jauh dari villa kami. Ana dan teman-teman berkumpul untuk senam pagi dan menikmati sejuknya udara yang diberikan Allah kepada kami. Hingga waktu sarapanpun tiba, ana dan teman-teman menunggu elmy untuk mengisi perut yang kosong. Kebersamaan ini semakin nyata ketika kami bersenda gurau menikmati hidangan yang ada didepan mata. Tiba waktunya untuk kami berkumpul kembali dalam kegiatan outbound, disini kami menampilkan yel-yel disetiap pos yang telah kami buat sebelumnya. Sorak semangat yel-yel membuat kami bersatu untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Saat itu kami diberikan sebuah kertas yang berisi tulisan acak dimana tulisan tersebut adalah game-game yang akan kami tempuh, kamipun serentak menyatukan fikiran untuk menyusun kata-kata yang tidak tertata. Hingga akhirnya game yang pertama adalah Kuis, dimana kami harus menjawab pertanyaan dari sepotong kertas dengan dua orang korban yang rela untuk kelompoknya. Korban yang pertama adalah ana dan korban yang kedua adalah amar. Alhamdulillah kelompok kami bisa menjawab dua pertanyaan dengan benar, hingga akhirnya ana dan amar tidak tersiram oleh derasnya air yang berada tepat dikepala kami. Lalu langkah kami semakin matang dan melanjutkan ke game selanjutnya yaitu sepongebob berjalan. Disini kami membagi tugas, ada yang nyebur untuk mengambil ember, spons dan botol yang berada di tengah kolam. Ana mendapatkan tugas untuk mengesot dan mengantarkan spons yang basah ke asep untuk diperas airnya ke dalam botol. Setelah itu kami beranjak menuju game yang ketiga yaitu air kehidupan. Digame ini kami diajarkan untuk sabar dan betapa pentingnya air untuk kehidupan kita, saat game dimulai kamipun siap dalam posisi masing-masing namun ketika botol yang kami isi penuh, saking senangnya asep menumpahkan sebagian air sehingga kami mengulangi game tersebut. Ketika itu botol terisi kembali dan ana pun terpleset dari atas kemudian disusul oleh andi yang ikutan terpelaset juga, suasanapun berubah menjadi tawa, senyum indah tercermin dari muka teman-teman lain, walaupun sakit tapi itu tidak terasa dengan adanya kebersamaan ini. Game selanjutnya yaitu memasukkan pensil ke dalam botol, disini kami diajarkan untuk bersatu untuk menjadi individu yang lebih sabar dalam menghadapi setiap masalah. Gamepun dimulai kami  mengikat tali dipinggang, dan bersama-sama memasukkan pensil kedalam botol dengan mengikuti instruksi yang diberikan oleh elmy, begitu sulit terasa dikala angin datang meniup pensil yang terikat ditengah kami. Dan sekitar satu setengah menit pensilpun masuk ke dalam botol, perasan senang dan bahagia menyelimuti kebersamaan ini. Game selanjutnya yaitu ular melingkar. dimana kami semua ditutup matanya dengan satu orang yang mengarahkan langkah kami. Dalam game ini kami diajarkan untuk kompak dalam menghadapi masalah dan bersyukur karena kami masih diberikan penglihatan oleh Sang Pencipta. Gamepun dimulai, kami berjalan perlahan agar tidak menyentuh tali yang telah dibatasi. Dengan lantangnya helmi menepuk punggung kami agar kami tetap dalam langkah yang benar. Seketika itu langkah kami memudar disaat air datang dari depan muka ana, ternyata ana salah melangkah. Air bah ini merupakan harapan kami agar berhati-hati dalam melangkah. Dan terakhir yaitu game perang badar, dimana kami harus melindungi mentor agar tidak basah. Ana tidak ikut dalam game ini karena kalah dalam permainan gambreng. 5 kelompok 5 orang menjadi satu kesatuan dalam permainan ini. Permainan ini mengajarkan kami untuk melindungi sesama muslim agar tidak saling manjatuhkan satu sama lain. Outbound telah usai, saatnya kami istirahat, disela istirahat ana menyaksikan teman-teman dan beberapa panitia sedang asyik bermain futsal, dengan gaya yang khas masing-masing mereka bermain dengan penuh kebahagiaan. Setelah itu ana dan teman-teman kembali ke villa untuk bersih-bersih, saat itu kami bersama-sama berbincang berbagi cerita tentang outbound yang telah kami lewati tadi. Ternyata sungguh mengesankan ketika perbedaan dalam sebuah kelompok menjadi satu dan terwujud ukuwah islamiyah. Setelah itu ana dan teman-teman mandi untuk membersihkan tubuh yang belepotan. Dan lagi-lagi WC-pun penuh karena banyaknya peserta sehingga tidak terjadi keselarasan. Namun ana dan teman-teman melihat WC yang sepi tidak ada orang didalamnya, WC ini bertempat di bawah kolam renang ikhwan, ketika ana dan teman-teman turun dan akan masuk ke dalamnya ternyata itu adalah WC akhwan seketika itu kami terkejut dan berlari untuk naik ke kolam ikhwan. Dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak mandi hari ini. Tak terasa suara Adzan pun berkumandang, ana bersiap-siap untuk menunaikan Shalat Ashar dan mendengarkan Kultum. Setelah itu ada materi yang disampaikan kalo tidak salah oleh Ust. Arsalsjah yang menjelaskan tentang renungan hati. Dengan adanya materi tersebut ana menyadari bahwa manusia itu tidak pantas untuk berlaku sombong, karena bumi yang kita tempati ini ternyata sangatlah kecil dibandingkan dengan planet-planet lainnya apa lagi dengan jagat raya ini. Oleh karena itu ana bersyukur dengan semua yang Allah berikan kepada kita. Tak terasa mentari meredupkan sinarnya bertanda malam menghampiri hari-hari kami, suara adzan pun mulai terdengar didalam benak kami. Saatnya Shalat Maghrib, Mendengarkan Kultum, Membaca Al-Ma’tsurat dan Tadarusan hingga waktu Isyapun tiba. Seketika itu waktu berjalan begitu cepat seakan-akan menyadarkan kami bahwa hidup hanyalah sementara dan semua ini adalah titipan. Setelah itu waktunya makan malam, seperti biasa nampan kotak dengan segunduk nasi dan lauk menyertai malam-malam kami, rasa lapar yang terlalu mengobati perut kami dengan kebersamaan ini. Setelah itu ada diskusi yang dinamakan dengan “suara antum”, diskusi kali ini membahas tentang Organisasi dengan Kuliah. Suasana semakin mencekam ketika para peserta ditanya tentang kedua permasalahan itu, kata-kata kritis terlantun dari para peserta yang ditanya, sehingga acara ini berjalan dengan hikmat. Tiada kata yang bisa ana keluarkan karena pernyataan itu tidak hadir dalam diri ana, sehingga disini ana menuliskan dengan tetesan tinta bahwa Organisasi dan Kuliah itu menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena tidak akan ada interaksi apabila Organisasi tidak ada. Keduanya itu harus seimbang, sehingga kreativitas seseorang dapat berkembang. Tak terasa waktu menunjukan pukul 23.00, saatnya kami untuk kembali ke villa. Di villa suasana berubah seketika dikala kami patungan untuk beli mie, kopi dan energen. Semuanya sibuk masing-masing dengan semua itu, namun sebagian yang lain, ana dan teman-teman berkumpul dikamar untuk berbagi cerita tentang hal yang kami alami dan memberikan motivasi buat kami semua. Malam ini sangat menyenangkan suara angin yang menusuk kulit menyuruh kami untuk tidur.

      27 Februari 2013, seperti biasa pukul 03.00 lewat suara sirine menyertai awal perjalanan ana, suara yang kemarin kembali hadir dalam benak ana “ayo boy, ayo boy, ayo boy. Semangat boy, semangat boy, semangat boy. Kebakaran kebakaran kebakaran, kebakaran jenggot”. Ana dengan teman-teman bersiap untuk menuju aula dan mengerjakan Shalat Tahajjud, tadarus, Shalat Subuh, mendengarkan Kultum dan membaca Al-Ma’tsurat. Tak perduli rasa dingin yang menyelimuti diri, yang terpenting ini adalah yang terbaik untuk ana dan teman-teman. Tak terasa waktu makanpun tiba, dengan nampan dan kebersamaan ini kami berbagi menyatukan diri agar semuanya terbagi rata dengan tujuan untuk memanjakan perut yang kosong. Setelah itu kami berlatih untuk kegiatan PENSIL (PENtas Seni IsLami) ? “pria berkarya, pria berkarya, pria berkarya”, kami menampilkan Drama yang ana buat bersama Elmy waktu itu. Hingga waktunya pun tiba, saatnya untuk mulai berpentas. Dengan rasa percaya diri kami tampil pertama menyatukan sebuah perbedaan dan hingga akhirnya drama ini berjalan dengan lancar. Mungkin kami bukan yang terbaik, tujuan kami Pentas adalah untuk membuat suasana ini menjadi  tawa dan yang terpenting menampilkan sesuatu dengan sepenuh hati. Dan akhirnya PENSIL pun usai kami kembali ke villa untuk berkemas karena hari ini adalah hari terakhir kami dalam acara SWI. Hingga kami pun kembali dikumpulkan di aula untuk menyaksikan siapa yang layak untuk mendapatkan penghargaan tersebut dan menjadi saksi pemberian penghargaan SWI. Hingga akhirnya acara puncakpun datang, penutupan menyadarkan ana betapa berharganya pengalaman ini. Ingin rasanya untuk ana kembali namun waktu ini tidak bisa diulang, dan ana berharap pengalaman ini membawa ana dan teman-teman menjadi individu yang lebih baik lagi dan mengamalkan semua apa yang diberikan oleh kegiatan ini. SWI ?? “Allahuakbar”. Akhirnya acara penutupan pun selesai kami kembali ke villa untuk beres-beres. Dalam satu villa kami menyeduh mie instant sekitar 20 bungkus sisa mie kemarin, dan dalam satu baskom kami memakan mie dengan seksama, hingga akhirnya miepun habis dalam tempo yang sesingkat-singlkatnya. Namun, sangat disayangkan mereka seperti tidak perduli dengan kebersihan, sisa piring yang dipakai dibiarkan saja tak dicuci hingga hati ana terketuk untuk mencuci semua itu. Mungkin rasa lapar sudah menyertai diri teman-teman. Hingga seketika itu waktu makan dari panitia tiba, namun sangat disayangkan ada salah satu dari kelompok yang ada di villa ana tidak manghabiskan nasinya, mereka hanya memakan lauknya saja. rasa kecewapun datang menyertai diri ana, mereka malah membuang nasi tersebut kehalaman villa. Akhirnya waktu zuhur pun datang, kami bergegas menuju aula untuk menunaikan Shalat Zuhur dan mendengarkan Kultum. Inilah akhir dari perjalanan ana, perjalanan yang menyenangkan penuh dengan pelajaran yang sangat berarti untuk diri ana. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk kita semua. Trima kasih Fajrul Islam, Trima kasih SWI.

Ini cerita SWI ku, apa ceritamu??

Ini Sertifikat SWI ku, Mana Sertifikatmu??

SERTIFIKAT

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: