Seandainya Pemimpin Kita Mencintai Sastra

      Ada suatu hadist yang menyatakan “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya”. (HR Bukhari).

      Dari hadist tersebut pada intinya banyak sekali pemimpin disekitar kita, namun yang menjadi pertanyaan untuk direnungkan berkenaan dengan judul tulisan ini ialah: “Apakah sastra itu bermanfaat sehingga para pemimpin khususnya pemimpin bangsa ini dapat mengapresiasikan sastra dalam memimpin dan kehidupan sehari-harinya??”

      Sastra dapat lahir dari subjektivitas seorang pemimpin, yaitu keutuhannya sebagai pribadi manusia yang mengalami/mengamati dunia kehidupan yang diliputi misteri dan kemungkinan-kemungkinan. Dengan demikian, sastra bertumbuh pada dan lahir dari keseluruhan kemanusiaan seorang  pemimpin : baik pancaindera, imajinasi, intelek, cinta, napsu, naluri, darah dan roh. Berikut ini adalah cara untuk mengenal sastra :

  • Menyadari betapa bermanfaatnya sastra bagi perkembangan aspek-aspek spiritual maupun bagi kehidupan.
  • Tempat pertama yang paling baik dan terarah untuk menumbuhkembangkan minat sastra adalah sekolah.
  • Membaca, mempelajari, dan mendalami sastra.
  • Mengungkapkan penghayatan dan pengalaman sastra.

      Mencintai rakyat sama halnya mencintai bangsa. Cinta Kalek terhadap tanah air adalah cinta yang lahir dari misi yang suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung dengan kemampuan memberi. Cinta yang disebut Anismatta sebagai cinta misi. Cerita-cerita tentang cinta misi yang digambarkan secara apik melalui sastra yang berbentuk novel, roman ataupun syair lainnya, selalu memberi imbas besar tehadap perubahan karakter orang-orang yang membacanya. Dan perannya akan semakin bertambah besar jika para pembacanya adalah para pemuda bahkan jika penulisnya adalah pemuda itu sendiri. Sehingga suatu saat nanti harapan-harapan, cita-cita bangsa dan adat istiadat dapat berkembang dan tidak akan hilang hingga generasi selanjutnya. Seandainya para pemimpin kita mencintai sastra, bukan tidak pasti negara kita pasti akan lebih maju karena nilai-nilai yang terkandung didalam karya sastra ini mencerminkan kepribadian bangsa yang kaya akan warisan adat-istiadatnya. Para pemimpin harus bisa mencintai rakyatnya. Syarat yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, apalagi pemimpin suatu bangsa adalah adil dalam melaksanakan tugasnya, berilmu/berkemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah disekitarnya, berwawasan, sehat, dan pembuktian.

      Dapatkah Indonesia kembali melahirkan para pemimpin yang luar biasa? yang dapat mencintai rakyat dengan sempurna? walaupun mencintai adalah pekerjaan yang berat. Sama beratnya dengan memimpin itu sendiri!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: