Suka Duka Kehidupan

     Cerita ini sekitar 50 tahun yang lalu, dimana harapan menjadikan sebuah asa dalam kehidupan. Kisah ini terinspirasi oleh seorang sosok yang luar biasa yaitu Bapak Ku. Dahulu ketika bapak berumur 6 tahun beliau ditinggal oleh sesosok pelita hidup dalam kegelapan. Ternyata takdir telah memisahkan bapak dengan bapak kandungnya.

     Bapak ku diasuh dengan saudara nenek ku yang saat itu tinggal berdua. Tidak ada kemewahan disini, hanya ada dinding dengan bilik bambu dan beratapkan jerami. Bertani adalah mata pencaharian pokok dalam kehidupan saat itu. Pagi hingga petang tangan kecil itu menggarap sebidang lahan dengan bermacam-macam tumbuhan. Tidak ada yang istimewa dalam kehidupan ini, hanya ada kesederhanaan dengan rasa syukur dihati. Bisa makan pun sudah bersyukur masih bisa diberikan nafas oleh Sang Maha Pencipta. Tidak ada upah ataupun bayaran disini, hanya ada keringat yang menetesi setiap ayunan cangkul di dalam diri.

     Sekolah merupakan sesuatu yang mewah dalam pandangan bapak. Kerja dan kerja tanpa adanya pamrih menjadikan diri ini iri melihat teman sebaya bersekolah. Disela waktu bertani bapak mencuri waktu untuk mengintip dari jendela usang dan melihat teman-teman belajar disana. Hanya dibalik kaca itu bapak bisa belajar untuk memahami apa yang diajarkan oleh bapak dan ibu guru. Sepotong papan dengan gumpalan arang menjadikan amunisi bapak dalam belajar. Meskipun dibayangi rasa takut namun tekad bapak kuat. Saat itu pendidikan dianggap mahal bagi bapak karena faktor ekonomi yang membuat impian seakan rapuh.

     Saat ini keadaan berubah 360o. Kehidupan yang dulu sudah tidak ku temukan lagi, hingga detik ini kakak-kakak ku sudah lulus mendapatkan gelar S1 dan aku akan berjuang menyusul mereka untuk mengangkat derajat kedua orang tua ku. Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan HambaNYA. Hanya rasa syukur yang ada didalam diri ini.

     Sepenggal cerita ini menjadi motivasi saya khususnya dalam belajar dan umumnya dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin Ucapan Terima Kasih ini tidak akan cukup untuk membalas semua jasamu. Orang tuaku adalah pahlawanku.

Lembayung senja, jika aku boleh meminta..

Dapatkah kau abadikan mereka?

Ya, mereka.

Mereka yang memberiku cinta

Mereka yang kuat dalam kelemahan

Mereka yang kokoh dalam rapuh

Mereka yang tabah dalam musibah…

Lembayung senja.. Jika aku boleh meminta…

Dapatkah kau beri mereka?

Ya, untuk mereka

Sebongkah emas dalam gunungan pasir

Secercah harap dalam kebimbangan

Dan seberkas cahaya dalam kegelapan…

Aku tau mereka tak minta itu dariku

Aku tau mereka tak inginkan itu dariku

Kasihnya lebih dari apa yang ku minta

Cintanya lebih dari apa yang ingin ku beri

Lembayung senja..

Jika aku boleh meminta…

Beri ruang di syurga sana untuk mereka

Ya. Mereka yang sangat ku kasihi

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: